SEMINAR PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA DAN SERVIKS

SEMINAR PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA DAN SERVIKS

CEGAH KANKER PAYUDARA DAN SERVIKS SEJAK DINI

PURWOKERTO-Tingginya jumlah penderita kanker payudara dan serviks di Indonesia mendasari Rumah Sakit (RS) Ananda Purwokerto mengadakan seminar bertajuk “Pencegahan Kanker Payudara dan Kanker Serviks” di Pendopo Si Panji Kabupaten Banyumas, Kamis (20/4). Acara yang bekerjasama dengan PKK Kabupaten Banyumas dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Banyumas ini sekaligus untuk memperingati Hari Kartini tahun 2017.

Hadir dalam seminar ini Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein, Direktur RS Ananda Purwokerto dr. Widayanto, M.Kes, ketua penggerak PKK Kabupaten Banyumas Erna Sulistiowati Husein, dr. Tony S Moerdijat, SpOG, para pengurus dan anggota dari PKK, GOW dan Dharma Wanita Kabupaten Banyumas serta Paguyuban Kepala Desa Perempuan Kabupaten Banyumas. Sebanyak 350 peserta hadir dalam acara ini.

Dalam sambutannya Bupati Banyumas menekankan pentingnya para ibu untuk lebih perhatian terhadap kesehatannya, khususnya terhadap penyakit kanker payudara dan serviks. “Kita tidak tahu apa penyebab, gejala awal dan cara mendeteksi kanker payudara dan serviks tersebut. Saya berterimakasih kepada Rumah Sakit Ananda yang mengadakan seminar ini, juga kepada Dinas Kesehatan serta dokter Tony yang sangat peduli pada penyakit kanker ini,” ujar Husein sekaligus membuka seminar, kemarin pagi.

Husein menghimbau agar ibu-ibu yang berumur 30 sampai 50 tahun mengecek kesehatannya untuk mendeteksi sejak dini kanker payudara dan serviks. Ini PR (pekerjaan rumah.red) bagi Dinas Kesehatan. Bagaimana cara dan program apa yang akan dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara dan serviks bagi ibu-ibu di kabupaten Banyumas,“ tegasnya.

Direktur RS Ananda Purwokerto dr. Widayanto, M.Kes menambahkan, seminar ini merupakan salah satu wujud perjuangan Kartini. “Pada masanya Kartini berjuang membela segala aspek kehidupan wanita dengan keterbatasannya pada saat itu. Saat ini dimana kanker payudara dan serviks menjadi penyakit paling berbahaya bagi kaum wanita maka kita mengadakan edukasi dengan seminar ini sebagai wujud perjuangan Kartini untuk kaum wanita,” terangnya.

Sebagai narasumber adalah para dokter yang ahli dibidangnya antara lain dokter spesialis Kandungan dr. Setya Dian Kartika, SpOG (dr. Ika) dan dr. Ibnu Ahyar, SpOG, dokter spesialis Radiologi dr. Dian Tunjungsari, SpRad, dan dokter spesialis Patologi Klinik dr. Linda Wijayanti, M.Sc, SpPK.

“Kanker payudara dan kanker serviks merupakan penyakit yang paling sering diderita oleh wanita dan paling sering menimbulkan kematian. Penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah namun kurangnya pengetahuan masyarakat dan minimnya edukasi yang diperoleh, mengakibatkan penyakit ini tidak diantisipasi sejak dini,” kata dr. Ika, pembicara sekaligus moderator pada seminar tersebut.

KANKER PAYUDARA

Dr. Dian Tunjungsari, SpRad mengatakan diagnosa dini keganasan pada payudara memerlukan pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang radiologi dan patologi anatomi yang saling menunjang untuk dapat menegakkan diagnosis secara tepat dan cepat.

Faktor Resiko

Penyebabnya tidak diketahui, namun ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan kanker payudara, diantaranya adalah faktor usia, keturunan, ketidakseimbangan hormon, riwayat menstruasi, riwayat pemakaian kontrasepsi, obesitas pasca menopause, pemakaian alkohol serta terpapar bahan kimia seperti pestisida dan produk industri lainnya.

Indikasi

Rasa tidak enak/tidak nyaman pada payudara, riwayat resiko tinggi menderita kanker, cancer phobia, pembesaran KGB axilla (kelenjar getah bening di ketiak) yang meragukan, dan metastase (penyebaran kanker dari suatu organ tubuh ke organ tubuh lain seperti ke otak, tulang, hati) tanpa diketahui primernya.

Diagnosis

Banyak dari tumor payudara yang tidak teraba dengan jelas pada pemeriksaan fisik, namun dapat diketahui melalui pemeriksaan radiologi mamografi dan ultrasonografi.

 “Perlu diperhatikan, sebelum dilakukan pemeriksaan agar tidak memakai bedak/deodorant/ parfum pada dada karena mengganggu penilaian. Juga tidak dalam keadaan hamil, menyusui dan haid,” imbuh dr. Dian.

KANKER SERVIKS

Menurut dr. Linda Wijayanti, M.Sc, SpPK kanker serviks (kanker leher rahim) adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal pada leher rahim. Penelitian epidemiologi di seluruh dunia menegaskan bahwa infeksi virus HPV (Human Papilomma Virus) adalah faktor penting dalam perkembangan kanker serviks.

Gejala dan Faktor Resiko

Dokter Ibnu memaparkan gejalanya antara lain pendarahan sesudah melakukan hubungan intim, keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita, timbulnya rasa sakit di daerah sekitar vagina, pendarahan sesudah mati haid (menopause), pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil.

Beberapa faktor risikonya adalah mulai melakukan hubungan seksual pada usia muda, sering berganti-ganti pasangan seksual, sering menderita infeksi di daerah kelamin, melahirkan banyak anak, kebiasaan merokok resiko dua kali lebih besar, dan kekurangan vitamin A, C, E.
Diagnostik

Kanker leher rahim stadium dini yang cepat ditangani dapat sembuh 100%. Sebagian besar kematian sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan tes atau pemeriksaan secara berkala. Pemeriksaan direkomendasikan dimulai pada usia 21 tahun atau dalam waktu tiga tahun setelah aktif secara seksual. Ada beberapa jenis pemeriksaan untuk kanker serviks :

1.Tes Pap Smear
Dalam tes Pap smear, dokter akan mengambil sampel dari jaringan serviks untuk kemudian menganalisanya di laboratorium.

Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid, tidak coitus (senggama) 1-3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan tidak sedang menggunakan obat-obatan vaginal. Tes Pap smear dilakukan 1-2 minggu setelah datang bulan, dan jangan membersihkan vagina dengan sabun dan gel lainnya.

Pemeriksaan Pap Smear dilakukan paling tidak setahun sekali bagi wanita yang sudah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual. Para wanita sebaiknya memeriksakan diri sampai usia 70 tahun.

2. Tes DNA HPV
Seperti tes Pap smear, tes DNA HPV melibatkan pengumpulan sel-sel dari serviks untuk pengujian laboratorium. Tes DNA HPV bukan merupakan pengganti tes Pap smear. Tes ini umumnya juga tidak digunakan untuk perempuan berusia di bawah 30 tahun dengan hasil tes Pap smear normal.

3. Metode IVA

IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks Anda setelah mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim. Hasilnya dapat diketahui saat itu juga atau dalam waktu 15 menit.

Metode IVA sangat sederhana (dapat dilakukan di Puskesmas), hasilnya cukup sensitif dan harganya amat terjangkau. Pemeriksaan juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi, saat asuhan nifas atau paska keguguran. Bila hasilnya bagus, kunjungan ulang untuk tes IVA adalah setiap 5 tahun.

4. Pemeriksaan Penunjang : USG, Radiologi (foto thoraks) dan Laboratorium (cek darah lengkap).

5. Penanda Tumor

“Penanda tumor digunakan untuk skrining dan deteksi awal kanker serta memonitoring terapi kanker, utamanya pasien stadium lanjut. Penanda tumor biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker, namun dapat membantu menentukan jenis kanker, agresivitas kanker atau seberapa baik responnya terhadap obat dan mendiagnosis penyebaran tumor ketika tumor primernya belum diketahui,” kata dr. Linda.

Untuk melakukan pemeriksaan penanda tumor, dokter akan mengirim sampel darah atau urine pasien ke laboratorium. Ada beberapa macam penanda tumor, misal Carcinoembryonic Antigen (CEA) dan Cancer Antigen (CA 15-3) atau CA 27-29 atau Truquant RIA.

Dalam seminar tersebut juga disediakan pemeriksaan kesehatan gratis oleh dokter umum RS Ananda Purwokerto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *